Kajian Islam Wacana Shalat Shubuh

Sholat Sunnah Dua Raka’at Sebelum Shubuh
Dalam hadits riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, Janganlah kalian meninggalkan dua rakaat fajar, sekalipun kalian sedang menghadapi musuh (HR Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan Ath-Thahawi).
Beliau juga bersabda,
Dua rakaat fajar lebih baik dibandingkan dengan dunia dan segala yang ada di dalamnya.
Dalam riwayat lain, Lebih saya senangi dibandingkan dengan dunia seisinya. (HR. Muslim).
As Sindiy menyampaikan bahwa makna dari “dua rakaat fajar” itu yakni shalat sunnah fajar. Cukup masyhur dengan nama ini (dua rakaat fajar) dan mengandung kemungkinan adanya kewajiban.
Sedangkan makna “Lebih baik dari dunia” yakni lebih baik dibandingkan dengan diberikan seluruh dunia di jalan Allah SWT atau kepercayaan mereka bahwa isi dunia adalah kebaikan dan tidaklah seberat atom dari (kenikmatan) akherat sanggup disamai dengan dunia dan seisinya. (Syarh Sunan an Nasai juz III hal 127)
Terdapat riwayat yang lain yang memastikan keunggulan dan perlunya melaksanakan shalat sunnah fajar ini, diantaranya :
Hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim bahwa tidaklah Nabi SAW sungguh mempertahankan shalat-shalat nafilahnya dibandingkan dengan dua rakaat fajar.”
Sabda Nabi SAW lainnya,”Barangsiapa yang tidak melaksanakan shalat dua rakaat fajar hingga terbit matahari maka laksanakanlah dua rakaat itu (saat terbit matahari ).” (HR. Baihaqi dengan sanad baik)
Dari Qais bin ‘Amr berkata,”Rasulullah SAW keluar (dari rumah) sewaktu iqomat shalat maka saya pun shalat shubuh bersamanya kemudian Nabi SAW beranjak dan mendapatiku sedang melaksanakan shalat. Lalu dia SAW bersabda,”Sebentar wahai Qais. Apakah dua shalat sekaligus?!” Aku menjawab,”Wahai Rasulullah bergotong-royong saya belum melaksanakan shalat dua rakaat fajar.” Beliau SAW bersabda,”Kalau begitu tidak apa-apa.” (HR. Tirmidzi)
Dari Abu Hurairoh dari Rasulullah SAW bersabda,”Janganlah kalian meninggalkan dua rakaat fajar meskipun kalian dikejar kuda (musuh).” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Dari Aisyah Radhiyallahu anhu, ia berkata, Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum dzuhur dan dua rakaat sebelum shubuh. (HR Al-Bukhari).
Terdapat banyak hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah senantiasa melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat shubuh. Kalimat tidak pernah meninggalkan pada hadits di atas memamerkan bahwa shalat sunnah fajar dua rakaat atau sanggup juga disebut shalat sunnah qabliyah shubuh yakni salah satu kebiasaan Nabi, atau sebuah perbuatan yang lazim dijalankan oleh beliau. Rasulullah nyaris tidak pernah meninggalkan sholat fajar ( qabliyah subuh ) dan sholat ini tergolong sholat sunnah muakkadah
Dalam hadits dikatakan, di antara shalat-shalat nafilah (sunnah), tidak ada satu pun yang lebih dijaga pelaksanaannya oleh Nabi dibandingkan dengan dua rakaat fajar. (Muttafaq Alaihi)
Suatu hari, Rasulullah pernah telat tiba ke masjid untuk shalat shubuh dikarenakan ada sebuah urusan yang harus dia kerjakan, padahal Bilal sudah mengumandangkan adzan shubuh beberapa sewaktu yang lalu. Kemudian tatkala dia datang, dia eksklusif shalat bareng para sahabat. Selesai shalat, Bilal menanyakan terhadap dia wacana alasannya yakni keterlambatannya seraya menginformasikan bahwa para teman dekat sudah usang menanti beliau. Beliau pun menginformasikan Bilal akan alasannya yakni keterlambatannya, bahwa ada sebuah urusan yang harus dia kerjakan, dan sehabis itu dia meluangkan diri untuk sholat sunnah dua rakaat sebelum ke Masjid.
Bilal berkata, Wahai Rasulullah, bergotong-royong engkau sudah telat sekali !?
Beliau bersabda, Sekiranya saya telat lebih dari itu, saya tetap akan shalat dua rakaat dengan sempurna. (Lihat Sunan Abu Dawud, Kitab Ash-Sholah, Bab Rakatay Al-Fajr, hadits Nomor 1257). 
RAHASIA DIBALIK SHOLAT SUBUH
Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik yakni shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengenali apa yang terkandung di dalamnya, tentu mereka akan mengunjungi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Sesungguhnya amal insan yang pertama kali dihisab pada hari final zaman yakni shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya, dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin menghendaki kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Shubuh tepat waktu?
Shalat Shubuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah raka’atnya; cuma dua rekaat. Namun, ia menjadi persyaratan keimanan seseorang dan cobaan terhadap kejujuran, lantaran waktunya sungguh sempit (sampai matahari terbit)
Ada eksekusi khusus bagi yang meninggalkan shalat Shubuh. Rasulullah SAW sudah menyebutkan eksekusi berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh yakni tidur.
“Setan melilit leher seorang di antara kalian dengantiga lilitan sewaktu ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan,Nikmatilah malam yang panjang ini. Apabila ia berdiri kemudian mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas.
“Berikanlah kabar besar hati terhadap orang-orang yang banyak berlangsung dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sungguh terperinci pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi danIbnu Majah]
Allah akan memberi cahaya yang sungguh terperinci padahari final zaman nantinya terhadap mereka yang mempertahankan Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melalui Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bareng mereka hingga mereka masuk surga, Insya Allah.
“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kau yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”.
“Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kau pada malam harinya, lalu Rabb mereka mengajukan pertanyaan terhadap mereka padahal Dia lebih mengenali keadaan mereka ‘Bagaimana hamba-hambaKu sewaktu kalian tinggalkan?’ Mereka menjawab, "Kami lewati mereka dalam kondisi shalat dan kami temui mereka dalam keadaan shalat juga". [HR Al-Bukhari]
Sedangkan bagi wanita walau shalat di masjid diperbolehkan shalat di rumah yakni lebih baik dan lebih banyak pahalanya, yaitu yang menjalankan shalat Subuh pada sewaktu para lelaki sedang shalat dimasjid. Ujian yang membedakan antara perempuan munafik dan perempuan mukminah adalah shalat pada awal waktu.
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Janganlah kau melarang hamba-hamba (wanita) Allah pergi ke masjid-masjid Allah, dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka, dan hendaklah mereka keluar dengan memakai busana yang apik.”
“Barang siapa yang menunaikan shalat Shubuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menyebabkan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan derma Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Shubuh, Allah akan menuntutnya, sehingga ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]
Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak insiden malapetaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan hadirnya cahaya tauhid.
قَالُواْ يٰلُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَن يَصِلُوۤاْ إِلَيْكَ
فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ ٱلْلَّيْلِ وَلاَ يَلْتَفِتْ مِنكُمْ أَحَدٌ
إِلاَّ ٱمْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَآ أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ
ٱلصُّبْحُ أَلَيْسَ ٱلصُّبْحُ بِقَرِيبٍ
Para delegasi (malaikat)
berkata: “Hai Luth, bergotong-royong kami yakni utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan sanggup mengusik kamu, alasannya yakni itu pergilah dengan menenteng keluarga dan pengikut-pengikut kau di final malam dan janganlah ada seorangpun di antara kau yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena bergotong-royong sewaktu jatuhnya azab terhadap mereka merupakan di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?.”
Kata tertinggal disini terjemahan dari kalimah yaltafit. Ada pula mufassir menterjemahkannya dengan menoleh ke belakang Perjuangan berat untuk melaksanakan sholat subuh,walau cuma dua raka’at tetapi untuk berdiri sangatlah susah memerlukan extra perjuangan.
Bahkan sewaktu menuju masjid dengan menembus udara hambar mereka jalankan karena mereka tau betapa agung kedudukan sholat wajib dua raka'at, tetapi sebagian orang akan menikmati buaian setan dalam tidurnya,
ٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوۤاْ إِن تَنصُرُواْ
ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
7. Hai orang-orang mukmin, jikalau kau membantu (agama) Allah, tentu Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. ( Muhammad;7)
ٱلَّذِينَ أُخْرِجُواْ مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلاَّ أَن
يَقُولُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ وَلَوْلاَ دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُمْ
بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ
فِيهَا ٱسمُ ٱللَّهِ كَثِيراً وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ ٱللَّهَ
لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
(yaitu) orang-orang yang sudah diusir dari kampung halaman mereka tanpa argumentasi yang benar, kecuali lantaran mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.” Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian insan dengan sebagian yang lain, tentulah sudah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah tentu membantu orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah betul-betul Maha Kuat lagi Maha Perkasa,( Al Hajj:40)
فَالِقُ ٱلإِصْبَاحِ وَجَعَلَ ٱلْلَّيْلَ سَكَناً وَٱلشَّمْسَ
وَٱلْقَمَرَ حُسْبَاناً ذٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ
Dia menyingsingkan pagi dan menyebabkan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. ( Al An’aam:96) Bagaimana dengan kita?
*** Marilah mulai sewaktu ini berjuang melawan kemalasan dan berdiri pagi shubuh menuju masjid/musholla untuk memperoleh raport bagus, kapan lagi, atau tak ada waktu lagi?!.
sumber: media kajian Agama Islam

Related : Kajian Islam Wacana Shalat Shubuh

0 Komentar untuk "Kajian Islam Wacana Shalat Shubuh"